Cerpen Ramadhan
Ramadhanku Penghambaanku
Namaku Vina, lengkapnya Vina Yuliana Savitri, sebuah
nama cantik pemberian orang tuaku, berharap pribadiku secantik namaku. Pagi ini udara sangat segar, kulihat mentaripun muncul diufuk timur
dengan ceria. Yah, hari ini adalah hari terakhir dibulan Sya’ban tahun 1441 H.
Artinya besok pagi sudah memasuki bulan Ramadhan , bulan yang ditunggu-tunggu
kaum muslimin di seluruh negeri ini.
Setiap jelang bulan Ramadhan, masyarakat di kampungku bekerja bakti
untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Bapak-bapak dengan semangatnya
membersihkan jalan-jalan dan lingkungan supaya terlihat bersih. Mushala yang kami jadikan sebagai pusat
kegiatan selama Ramadhanpun tak lupa dipersiapkan oleh bapak-bapak dan pemuda
di kampung kami. Ibu-ibu bertanggungjawab membersihkan rumah masing-masing dan
lingkungan sekitar rumah.
Oh iya, kebiasaan di kampungku, ada lomba kebersihan kampung yang diadakan oleh Kepala dusun kami. Lomba ini diadakan setiap tahun jelang datangnya bulan suci Ramadhan. Hebat
kan.. dan yang lebih hebatnya lagi, kampungku selalu mendapat juara pertamanya.
Sebulan sebelum Ramadhan tiba, ibu-ibu di kampungku sudah berembug
untuk mempersiapkan konsumsi terkait kegiatan di bulan
Ramadhan nanti. Jadwal pemberi takjil, jaburan, dan konsumsi tadarus pun sudah
siap dan sudah diedarkan. Tak lupa RISMUDA sebutan organisasi muda-mudi di kampung kami menyiapkan jadwal kegiatan
selama Ramadhan dan siap menghandle kegiatannya.
Seperti biasanya, sebagai bagian dari RISMUDA, aku diberikan tugas oleh rekan-rekan untuk mengisi kegiatan ceramah jelang buka puasa. Akupun senang dan merasa enjoy dengan kegiatan
seperti ini. Tambah lagi, anak-anak di lingkunganku sangat antusias mengikuti
kegiatan di mushala kami. Hihihi... sebenarnya mereka senang mengikuti setiap
kegiatan yang diadakan di mushala, karena setiap akhir Ramadhan, ada reward
yang sengaja kami siapkan bagi mereka yang aktif mengikuti kegiatan. Berbagai
macam reward kami siapkan, mulai dari alat tulis, baju koko, jilbab,busana
muslimah, mainan anak dan lain-lain. Lantas
dari mana reward yang kami berikan untuk mereka? Hehe..kami tidak kehabisan cara,
tugas kami adalah mengabsen anak-anak dan memantau mereka , terus hadiah yang
mereka terima itu sebenarnya adalah dari orang tua mereka sendiri, hanya saja,
setahu mereka, hadiah itu adalah dari kami. Heeem..Begitulah kegiatan Ramadhan
di tempat kami.
Tetapi
Ramadhan tahun ini sangatlah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan
tahun ini membuat kami sedikit bersedih dan gelisah. Bagaimana tidak? Kami
tidak bisa lagi melakukan kegiatan di mushala tercinta kami seperti biasanya.
Tetangga sebelahku mempunyai anak yang sangat aktif. Sebut saja
namanya Asyraf. SEkarang ia duduk di kelas 4 SD. Ia bersekolah di salah satu SD di dusun kami. Tahun lalu dia salah satu anak yang mendapatkan reward karena keaktifannya mengikuti kegiatan ramadhan. Kebetulan pagi ini ia duduk-duduk di teras depan rumahnya bersama dengan ayahnya. Teras rumah kami bersebelahan. Ia bertanya pada ayahnya,“Ayah, kenapa sih, virus coronanya tidak pergi-pergi? Aku kan pingin ke mushala, mengaji, bermain
bersama teman-teman, dan ta’jilan, di sana. Mushala kita kan baru selesai diperbaiki sekarang tempatnya tambah bagus dan enak Yah, teman-teman
juga pingin pergi ke mushala. Bosen Yah, masak tiap hari kita cuma dirumah terus, belajar juga
dirumah gak bisa kemana-mana!”
Sang ayah dengan gayanya
yang bijak menjawab, “ Kita berdoa saja ya Nak, semoga virus corona ini segera
pergi dan kita bisa ke mushala lagi bersama-sama” Aku tersenyum mendengar obrolan mereka.
Memang sih, semenjak virus
corona mewabah di Indonesia, kami harus mengubah semua kebiasaan dan kegiatan
ibadah kami. Terlebih di kampung kami ada beberapa orang yang termasuk ODP
bahkan ada yang dinyatakan positif covid 19. Astaghfirullohal adziim.
Corona telah merubah segalanya. Kegiatan rutin yang disukai
anak-anak jelang buka puasa tahun ini harus di tiadakan, shalat tarawih yang
biasanya kami lakukan di mushala, kini harus kami lakukan di rumah .Tadarus yang biasanya kami lakukan
bersamapun, tahun ini harus kami lakukan di rumah kami masing-masing. jujur ada rasa kecewa dihatiku kareana Ramadhan tahunini aku tak bisa beraktivitas sebagaiman ramadhan-ramadhan sebelumnya.
Sejenak mataku memandang sebuah puisi, karya KH. Musthafa Bisri,
seorang kyai ternama dan juga seniman yang karya-karyanya sangat kusukai, bahkan kukumpulkan karya-karya beliau dalam sebuah file. Setiap puisinya sarat akan makna dan menggelitik bagi siapa saja yang membacanya. Kubaca perlahan puisinya.
“Tuhan Mengajarkan
Melalui Corona”
Vatikan sepi
Yerusalem sunyi
Tembok ratapan
dipagari
Paskah tak
pasti
Ka’bah tutup
Shalat Jum’at
di rumahkan
Umroh batal
Shalat tarawih
Ramadhan mungkin juga
bakal sepi
Corona datang
Seeolah-olah membawa pesan bahwa
ritual itu rapuh
Bahwa ‘hura-hura’ atas nama tuhan itu
semu
Bahwa simbol dan upacara itu banyak
yang hanya menjadi topeng dan komoditi
dagangan saja
Ketika corona
datang
engkau dipaksa
mencari tuhan
Bukan di
Basilica Santo Petrus
Bukan di Ka’bah
Bukan di dalam gereja
Bukan di masjid
Bukan di mimbar
khutbah
Bukan di Majlis
ta’lim
Bukan dalam
misa Minggu
Bukan dalam
shalat Jum’at
Melainkan,
pada
kesendirianmu
pada mulutmu
yang terkunci
pada hakikat
yang senyap
pada keheningan
yang bermakna
Corona
mengajarimu
Tuhan itu bukan
(melulu) pada keramaian
Tuhan itu bukan
(melulu) pada ritual
Tuhan itu ada
pada jalan keputusasaanmu
dengan dunia
yang berpenyakit.
Corona memurnikan
agama
bahwa tidak ada
yang boleh tersisa
Kecuali tuhan
itu sendiri!
Tidak ada lagi indoktrinasi
yang menjajah
nalar
Tidak ada lagi
sorak sorai
memperdagangkan
nama Tuhan.
Datangi, temui
dan kenali DIA di dalam
relung jiwa
dan hati
nuranimu sendiri
Temukan DIA
disaat yang teduh
dimana
engkau hanya
sendiri bersama-NYA
Sesungguhnya
kerajaan Tuhan ada dalam
dirimu
Qalbun mukmin
baitullah
Hati orang yang
beriman adalah rumah
tuhan
Biarlah hanya
Tuhan yang ada
Biarlah hanya
nuranimu yang bicara
Biarlah para
pedagang, makelar, politikus
dan para
penjual agama disadarkan oleh
tuhan melalui kejadian
ini.
Semoga kita
bisa belajar dan mengambil
hikmah dari
kejadian ini.
Surabaya, 22
Maret 2020
Tak terasa, air mataku menetes di pipi, lidahku kelu, dan dada ini
terasa sesak meresapi dan merenungi
puisi yang barusan kubaca.Ya... memang benar, banyak dari kita yang belum menyadarinya,
termasuk juga dengan diriku, bahwa sebenarnya ibadah kita selama ini tak lebih
hanya sebagai ritual semata, belum pada makna yang sebenarnya. Bahwa beribadah
sejatinya tak perlu selalu bersama, tak harus di masjid ataupun di mushala, tapi
bisa di mana saja. Ya Allah, Vina, Vina... sadarlah kamu, begitu hatiku
berbisik.
Ramadhanku tahun ini, telah menyadarkanku. Bahwa hakikat beribadah
bukan semata-mata pada kegiatan kita pergi ke mushala dan beribadah bersama di sana,
sungguh bukan itu. Namun, hakikat ibadah kita adalah sejauh mana kita bisa taat
dan tunduk kepada Allah, menghambakan diri kepada -Nya dan mengkonsentrasikan
niat hanya kepada-Nya dalam setiap keadaan dan berbagai keadaan. Dimanapun dan
kapanpun.
Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini. Ampuni kedangkalan pemahaman kami. Terimalah amal ibadah kami di bulan
suci ini, jadikan kami hamba-Mu yang bisa merubah diri menjadi lebih baik lagi.
Yogyakarta,
6 Mei 2020
Penulis
Chalimah
Guru MIN 1 Yogyakarta
Chalimah
Guru MIN 1 Yogyakarta

Komentar
Posting Komentar